1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>
Senin, 06 Februari 2012

Aplikasi Frekuensi Pemberian Pakan Buatan Secara Optimal Pada Budidaya Udang Windu Intensif Berkelanjutan

PDF Cetak Surel

Ditulis oleh Darmawan Adiwidjaya dan Erik Sutikno

 

Abstrak

Perkembangan teknologi dan usaha budidaya udang di tambak sejak beberapa tahun yang lalu membuat kebutuhan akan pakan buatan menjadi sangat esensial bagi kelangsungan dan peningkatan produksi udang. Program pemberian pakan pada budidaya udang windu merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan baik jenis, ukuran frekuensi dan total kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan. Salah satu faktor pengelolaan pakan pada kegiatan usaha budidaya udang windu adalah teknik dan aplikasi frekuensi pemberian pakan.ga

Metoda yang diaplikasikan pada kegiatan perekaysaan ini adalah perlakuan frekuensi pemberian pada pada budidaya udang windu yang malsimal dan minimal dalam pemberian per hari. Tujuannya adalah : untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi pemeberian pakan buatan pada usaha budidaya udang, mengetahui efisiensi penggunaan pakan selama pemeliharaan dan mengetahui nilai ekonomis udang hasil panen.

Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini, bahwa perlakuan frekuensi pemberian pakan yang menggunakan standar minimal dapat memberikan berat rata-rata sekitar 23,8 gram, SR 75,4% dan FCR 1,53 : 1 serta biomass 287,1 kg, sedangkan pada petak kontrol dengan frekuensi pemberian pakan yang menggunakan standar maksimal memberikan berat rata-rata 22,3 gram, SR 70,2 % dan FCR 1,76 : 1 serta biomass 250,5 kg. Frekuensi pemberian pakan yang tepat pada budidaya udang windu intensif dapat memberikan hasil yang cukup efektif, efisien, ekonomis dan berkelanjutan.

Kata kunci : aplikasi, frekuensi, pakan buatan, optimal, windu, berkelanjutan

  1. I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan teknologi dan usaha budidaya udang di tambak sejak beberapa tahun yang lalu membuat kebutuhan akan pakan buatan (tambahan) menjadi sangat esensial bagi kelangsungan dan peningkatan produksi udang. Banyak pabrikan pakan buatan yang komersial bagi keperluan budidaya ikan/udang yang memproduksi secara besar-besaran. Hal ini sangat wajar, karena penerapan teknolgi budidaya ikan/udang akan survive dan eksis dalam usahanya apabila dalam proses produksinya sudah menggunakan pakan tambahan sepenuhnya dan diaplikasikan secara kontinyu.

Kegiatan usaha budidaya air payau, khususnya tambak udang merupakan usaha yang proses produksinya hampir mencapai 60% menggunakan pakan formulasi buatan terutama pada teknolgi semi-intensif hingga superintensif. Namun dalam perkembangannya pada saat sekarang pemberian pakan pada teknologi budidaya udang sudah harus mempertimbangkan berbagai aspek yang bersifat efisiensi, efektif, ramah lingkungan dan udang yang diproduksi aman bagi konsumen. Keamanan pangan sudah merupakan suatu tuntutan dan tantangan agar udang yang dihasilkan dari kegiatan budidaya di tambak betul-betul bebas dari kandungan logam berat, antibiotik dan bakteri pathogen. Dengan sederet masalah yang menyertai budidaya udang, pada akhirnya yang menyangsikan keberlanjutan usaha ini.

Bisnis ini telah memberikan banyak keuntungan dan manfaat yang signifikan, ternyata keberadaannya seringkali berkaitan dengan isu perusakan lingkungan, konflik kepentingan, isu penggunaan obat-oabatan, dan faktor sosial yang melibatkan berbagai unsur masyarakat (multi-sektoral). Berbagai faktor telah mendorong berkembangnya usaha budidaya udang, antara lain potensi keuntungan yang cukup besar, tingginya permintaan akan produk seafood, dan semakin berkurangnya produksi perikanan tangkap. Usaha ini telah menciptakan “multiplier effects” pada berbagai aktivitas produktif di masyarakat, misalnya usaha penangkapan/produksi induk, pembenihan, produksi pakan, pengolahan (cold-storage), mesin dan mekanik (machinery), dan berbagai jasa yang berkaitan dengan proses produksi. Sekarang ini, tidak kurang dari 30% produksi udang dunia dihasilkan dari budidaya tambak, dan angka ini cenderung terus meningkat dengan semakin banyaknya negara produsen yang berkecimpung dalam bisnis budidaya udang.

Alternatif untuk meningkatkan produkstivitas udang nasional yang berwawasan lingkungan dan aman dikonsumsi serta diterima oleh pasar intensional adalah dengan cara budidaya ikan/udang yang baik. Tingkatan teknologi budidaya yang diterapkan tidak menjadi ukuran dalam menghasilkan udang untuk diterima di pasar internsional. Dalam proses peningkatan produksi tambak ini akan dilihat dari cara penerapan budidaya yang baik dan benar dalam hal ini manajemen dan pengelolaan pakan serta penggunaan pakan buatan yang aman dari kandungan logam berat dan antibiotik pada daging udang. Untuk itu, BBPBAP Jepara akan dan terus menigkatan kemampuan dan menghasilkan paket-paket teknologi budidaya udang yang ramah lingkungan dan keamanan pangan, salah satunya adalah rekayasa teknik aplikasi frekuensi pemberian pakan buatan secara optimal pada budidaya udang windu intensif yang berkelanjutan. Parameter frekuensi pemberian pakan buatan pada budidaya udang windu intensif yang akan diamati adalah : pertumbuhan, SR, FCR dan bakteri pathogen.

Kerangka Pikir

Komoditas perikanan budidaya tambak, terutama jenis udang masih merupakan komoditas unggulan dalam program eksport perikanan Indonesia (Anonim, 2007). Namun dalam perkembangannya bahwa komponen terbesar pada proses produksi terletak pada pakan tambahan(buatan) yang hampir mencapai 60% dari biaya produksi udang di tambak. Dalam upaya peningkatan produksi udang terdapat kendala, yaitu selain penyakit, lingkungan,  kualitas benih,  dan juga kualitas pakan. Pakan menempati porsi terbesar (60%) dari seluruh input produksi, hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan usaha budidaya. Pakan merupakan salah satu sumber bahan organik terbesar di tambak. Namun jumlah pakan yang dapat diasimilasikan dalam tubuh udang sangat rendah yaitu 13% karbon, 29% nitrogen, dan 16% posfor (Briggs et al. 2004) Rendahnya retensi nutrien pakan dalam bentuk biomas udang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : formulasi kurang optimal dan kualitas bahan baku yang digunakan, adanya kelebihan pakan serta rendahnya kestabilan pakan di air (Burford et al, 2001).

Program pemberian pakan pada budidaya udang windu merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan baik jenis, ukuran frekuensi dan total kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan (Adiwidjaya et al, 2005). Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik. Penggunaan pakan yang efisien dalam usaha budidaya sangat penting kerena pakan merupakan faktor produksi yang paling mahal (Andrews, et al. 1972). Oleh karena itu, upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan tambahan perlu dilakukan guna menigkatkan produksi hasil perikanan budidaya dan mengurangi biaya pengadaan pakan, serta meminimalkan produksi limbah pada media budidaya, sehingga dapat tercipta budidaya udang yang berkelanjutan (Adiwidjaya et al, 2005). Pengelolaan pakan harus dilakukan sebaik mungkin dengan memperhatikan apa, berapa banyak, kapan, berapa kali, dimana ikan/udang diberi pakan. Penerapan feeding ragim hendaknya disesuikan dengan tingkah laku kultivan, serta siklus alat pencernaan guna memaksimalkan penggunaan pakan (Tacon, A. 1987).

Untuk mencapai sasaran dalam penggunaan pakan pada budidaya udang windu di tambak diperlukan pemahaman tentang nutrisi, kebutuhan nutrien dari kultivan, teknologi pembutan pakan, kemampuan pengelolaan pakan untuk setiap komoditas  budidaya dan teknik aplikasi pemberian pakan (New, N.B., 1987). Salah satu faktor pengelolaan pakan pada kegiatan usaha budidaya udang windu adalah teknik dan aplikasi frekuensi pemberian pakan selama masa pemeliharaan. Untuk itu, para pembudidaya selalu berusaha menekan biaya produksi yang seefisien mungkin dari berbagai komponen produksi, salah satunya adalah dengan berbagai aplikasi dan teknik pemberian pakan tambahan/buatan pada budidaya udang.

Tujuan

Tujuan dari kegiatan  ini, adalah  sebagai berikut :

  • Untuk mengetahui efektifitas pemeberian pakan buatan pada usaha budidaya udang,
  • Untuk mengetahui efisiensi penggunaan pakan selama pemeliharaan,
  • Untuk mengetahui nilai ekonomis udang hasil panen.

Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai pada kegiatan perekaysaan ini adalah untuk mengetahui perkembangan biologis dan faktor lainnya dari udang yang dibudidayakan : pertumbuhan berat rata-rata sekitar 25 gram; SR (sintasan) > 75%; FCR < 1,5 : 1 dan bakteri pathogen dan vibrio.

 

  1. II. BAHAN DAN METODA

Waktu dan Tempat

Kegiatan perekayasaan rekayasa aplikasi frekuensi pemberian pakan buatan secara optimal pada budidaya udang windu intensif yang berkelanjutan ini dilaksanakan mulai pertengahan bulan Juni s/d awal bulan Desember 2009 dengan lokasi di tambak BBPBAP Jepara. Petak tambak ujicoba/rekayasa teknologi yang  digunakan adalah  2 petak pembesaran dengan  luasan masing-masing 400 m2 dan petak tandon  biofilter 1 petak serta petak treatmen 1 petak dengan luas masing-masing  400 m2. Konstruksi pematang terbuat dari concreat dengan bentuk empat persegi. Lay-out kegiatan ujicoba tertetara pada Gambar 1.

df113
Gambar 1. Lay-out kegiatan ujicoba frekuensi pemberian pakan

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ujicoba/perekaysaan skala lapang adalah dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2 berikut ini :

 

Tabel 1. Bahan-bahan yang  digunakan

No.

Bahan-bahan

Jumlah

Satuan

1.

Benih windu bebas pathogen

32.000

ekor

2.

Pakan Buatan udang windu

880

kg

3.

Desinfektan

60

kg

4.

Kapur (dolomit)

500

kg

5.

Zeolit

250

kg

6.

Saponin

30

kg

7.

Pupuk  Urea

20

kg

8.

Pupuk  TSP

10

kg

9.

Pupuk plankton katalis

4

kg

10.

Inokulan plankton

5

m3

11.

Probiotik

20

liter

12.

Feed additive (vitamin C, dll)

1

paket

13.

Komponen biofilter

1

paket

14.

Sarana bio-scurity

1

paket

Tabel 2. Peralatan dan sarana yang digunakan

No.

Peralatan dan Sarana

Jumlah

Satuan

1.

Petak tandon biofilter (400 m2)

1

petak

2.

Petak treatment  (400 m2)

1

petak

3.

Petak pembesaran udang (400 m2)

2

petak

4.

Saluran pembuangan (pengendapan dan resirkulasi)

1

petak

5.

Pompa submersible 8”  dan 6”

2

unit

6.

Kincir air  1 PK

2

unit

7.

Peralatan pengamatan air dan tanah

1

paket

8.

Peralatan untuk pemantauan penyakit

1

paket

9.

Peralatan lapangan dan sampling udang

1

paket

10.

Sarana pendukung lainnya

1

paket

 

Metoda

Persiapan Tanah

Pengolahan tanah dasar tambak dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi fisik dan biokimiawi tanah dasar tambak.  Dengan cara penjemuran, pengangkatan lumpur organik dasar tambak dibuang keluar sistem, maka proses oksidasi dapat berlangsung dengan baik, sehingga proses perombakan bahan organik oleh bakteri dekomposer dapat lebih cepat dan  sempurna. Kegiatan dalam proses perbaikan dasar tambak meliputi : pengeringan dan pengangkatan lumpur dasar, pengapuran tahap pertama, pembalikan tanah dasar,  pengapuran tahap kedua, analisa  kualitas tanah ( pH dan Redoks Potensial) dan aplikasi  probiotik.

Persiapan Sarana dan Prasarana

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melengkapi sarana dan prasarana penunjang agar  pelaksanaan kegiatan  berjalan sesuai rencana. Kegiatan persiapan sarana dan prasarana ini meliputi : perbaikan bocoran, pebaikan pintu, saluran buang, pasang saringan halus pada pintu  masuk/buang, pembuatan jembatan bambu dan skala air dan pemasangan pompa dan kincir sesuai kebutuhan.

Persiapan Air Media

Persiapan air, air yang masuk keseluruh sistem akan diberi kaporit 30 ppm dan diendapkan selama 3 hari untuk menghilangkan carrier dan partikel virus yang terbawa air. Air akan dialirkan dan diendapkan disaluran untuk selanjutnya masuk kembali ke dalam sistem setelah mengendap di reservoir selama 3 hari. Demikian selanjutnya untuk penambahan air baru dari luar sistem harus didesinfeksi terlebih dahulu. Kegiatan  seperti ini dimaksudkan  untuk meminimumkan resiko perubahan lingkungan dan  mengeliminir hama dan penyakit.

Tujuan dari persiapan air adalah menyediakan air media yang sehat untuk pemeliharaan udang. Dua hal yang harus diwaspadai dalam persiapan air yaitu  adanya  bahan cemaran dalam air (pestisida dan logam berat) dan kontaminasi berbagai bahan penyebab penyakit.

Pengisian air pada seluruh unit, mulai dari saluran pengendapan, tandon dan petak pemeliharaan udang. Pengisian petak pembesaran mencapai ketinggian  80 – 100 cm, menggunakan pompa submersible. Sterilisasi air dengan kaporit 20 – 30 ppm, selama 5 - 6 hari hingga kadar chlorinnya  netral. Pemupukan air media, digunakan kombinasi antara Urea, TSP dan Plankton katalis, dosis  2 kg (Urea), 0,5 kg (TSP) dan  plankton katalis 0,5 kg/petak. Setelah 24 jam dari penebaran pupuk, maka pupuk telah larut dalam air, selanjutnya dilakukan penumbuhan plankton dengan cara inokulasi. Penumbuhan plankton dilakukan dengan  menginokulasi bibit Skeletonema spp, dan Chlorella spp pada petak pemeliharaan udang, sebaiknya dilaksanakan pada pagi hari saat  cahaya matahari sedang bersinar. Pertumbuhan plankton dianggap cukup apabila kecerahan air antara 40 – 50 cm,  warna air  hijau kecoklatan. Waspadai datangnya chironomid larvae, hadirnya larva ini  dapat menyebabkan air menjadi jernih dengan nilai transparansi 100%, (tembus dasar) karena semua bahan organik dimanfaatkan larva tersebut sebagai makanannya.

Pemasangan organisme biofilter yang terdiri dari multispesies ikan (jenis maupun ukuran), kerang hijau dan rumput laut pada petak tandon sesui dengan tempat yang disediakan. Petak  tandon dapat dipersiapkan lebih awal dan digunakan untuk menumbuhkan fitoplankton. Penumbuhan fitoplankton yang dipersiapkan terlebih dahulu  akan mempermudah dalam mempersiapkan  fitoplankton pada petak pembesaran,  pada umumnya  para petambak mengalami kesulitan terutama  pada awal persiapan.

Pemilihan Benur

Untuk mendapatkan benur yang berkualitas (sesuai SNI benih), maka pemilihan dan pemilahan benur  harus dilaksanakan dengan hati-hati, melalui prosedur yang disyaratkan. Hal ini dimaksudkan  untuk mendapatkan benih yang bebas dari berbagai kemungkinan infeksi penyakit yang disebabkan oleh virus (SEMBV) maupun bakteri vibrio dan protozoa, yang secara keseluruhan akan menyebabkan gangguan terhadap proses budidaya pada umumnya dan pertumbuhan udang khususnya. Sebelum benih ditebar dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dan kadar garam air pengangkutan dengan air tambak. Cara yang dilakukan adalah  membuka kantong dan  menambahkan air tambak kedalam kantong sedikit demi sedikit sampai benih udang aktif berenang keluar sediri dari dalam kantong tersebut. Aklimatisasi dilakukan dengan cara memasukan  benih pada wadah waskom atau ember ditambahkan air tambak sedikit-demi sedkit, aklimatisasi dianggap cukup bila benih sudah aktif berenang.   Padat penebaran  udang windu (PL-15) pada kegiatan ujicoba/perekayasaan ini adalah 40 ekor/m2.

Pemeliharaan

Untuk mempertahankan kualitas air yang layak bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang.  Pelaksanaan pengelolaan air di lapangan adalah : pengamatan harian  meliputi : pH, Suhu, salinitas, dan kecerahan dilakukan pada pagi dan sore hari, pengamatan pola 24 jam dilakukan setiap bulan sekali, mulai umur 30, 60, 90, dan 120 hari, parameter yang diamati sama seperti pada pengamatan harian.

Mempertahankan kepadatan plankton pada kecerahah air 35 - 45 cm dengan warna air hijau atau coklat muda yang didominasi oleh kelompok  chloropiceae dan diatom.  Perganntian air dilakukan bila kecerahan kurang dari 35 cm. Sebaliknya pemupukan susulan dilakukan bila kecerahan lebih dari 45 cm. Air yang digunakan harus melalui petak pengendapan dan biofilter dan mempunyai kualitas yang  layak untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang. Ketinggian air pada petak pemeliharaan  minimal 80 – 100 cm. Untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut pada malam hari digunakan 1 unit kincir 0,75 HP.

Setiap penambahan air baru dari laut/sungai harus disterilkan terlebih dahulu dengan calsium hypochlorit 10 ppm.

Sirkulasi air selama pemeliharaan harus dilakukan dengan maksud untuk menjaga stabilitas lingkungan, volume pergantian  disesuaikan dengan kondisi di lapang. Persentase penggantian air harian tergantung kepada kondisi parameter kualitas media pemeliharaan, adapun yang umum digunakan dalam penggantian air harian berkisar antara 5 – 30%. Pola pergatian air menunjukkan bahwa volume pergantian air media semakin hari semakin besar.  Hal ini sesuai dengan usia pemeliharaan, dan ukuran udang, semakin besar tingkat pencemaran internal yang ditimbulkan semakin meningkat sehingga penurunan kualitas lingkungan tidak dapat dihindari, dampak dari kondisi tersebut akan berpengaruh langsung terhadap kesehatan udang. Menjaga kestabilan parameter seperti pH dan alkalinitas diaplikasikan dolomit dengan dosis antara 5 – 20%, sedangkan untuk membantu menyerap gas-gas beracun menggunakan zeolit dengan dosis antara 5 – 15%.

Pengamatan kondisi kesehatan udang meliputi gerakan, warna, kondisi usus dan nafsu makan dilakukan setiap hari. Sedangkan pengamatan kesehatan udang secara laboratorium dilakukan setiap sepuluh hari sekali bersamaan dengan pengamatan laju pertumbuhan udang. Pengamatan dan analisis di laboratorium meliputi total vibrio, histopatologi dan pemantauan infeksi virus dengan test PCR yang diawali sejak pemilihan benur hingga pemeliharaan ditambak, dilakukan secara periodik yaitu setiap bulan sekali.

Pengamatan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang dilakukan setiap 10 hari  sekali yaitu bersamaan dengan pengamatan kualitas air dan kemelimpahan bakteri.  Pengamatan pertumbuhan dilakukan pengambilan contoh udang sebanyak 20 ekor secara acak kemudian ditimbang    untuk mendapatkan data pertumbuhan berat  rata-rata (gr)/ individu, SR, dan total biomassa.  Sampling pertumbuhan udang dimulai setelah  30 hari masa pemeliharaan. Sampling berikutnya dilakukan setiap 10 hari  sekali,  hingga masa pengujian berakhir  (120 hari).  Pengamatan petumbuhan dan kesehatan udang  diawali dari  umur 1 - 30 hari  pengamatan melalui anco. Sampling pertumbuhan dimaksudkan untuk memperoleh data tentang kondisi kesehatan udang, populasi, berat individu (gr), rerata pertumbuhan harian (gr), estimasi total biomass (kg),  mengetahui variasi ukuran dan selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan perhitungan jumlah pakan/hari.  Masing-masing dapat dihitung dengan contoh rumus seperti berikut :

 

Mean Body Weight (MBW).

 

Berat udang + wadah – berat wadah

MBW = ---------------------------------------------- -- =  ..........grm.

Jumlah udang

 

Contoh :                      Berat udang dan wadah          = 4.500 grm.

Berat wadah                            = 500 grm.

Jumlah udang                          = 300 ekor.

 

4.500 – 500

MBW =    -----------------------  = 13,333 gr

300

 

Average Daily Growth (ADG)

 

MBWn - MBWo

ADG =    ------------------------   =  .....   gr

t

 

Contoh :          Berat rata rata udang hari ke 50 (MBWn)      = 13,333 gr

Berat rata-rata udang hari ke 40 (MBWo)      =   9,833 gr

Jarak waktu pengambilan contoh (t )              = 10  hari

 

13.333 – 9.833

ADG =    -------------------------   = 0,25 gr

10

Survival  Rate ( SR)

 

Penghitungan SR dilakukan dengan cara menghitung seluruh hewan uji pada setiap wadah, dengan interval waktu 10 hari sekali.

 

 

Estimasi Total Biomass

 

Jumlah tebar x  SR (%) x ABW

Total Biomass  =      --------------------------------------        =           kg

1000

Rancangan Aplikasi Pengelolaan Pakan

Pemberian pakan tambahan mulai diberikan  sejak dari penebaran benih hingga menjelang panen berdasarkan ukuran, dosis dan jumlah pakan yang disesuaikan dengan ukuran udang yang diamati (sampling) setiap 10 – 15 hari sekali (Tabel 3). emberian pakan segar dapat dilakukan apabila nafsu makan menurun, akan tetapi harus diimbangi dengan pergantian air yang cukup.

 

Tabel 3.   Program standar pemberian pakan pada budidaya udang  di tambak (berdasarkan pengamatan berat dan umur udang yang dipelihara)

Umur

(hari)

Berat Rata-rata (gr)

Diet Pakan

atau (No. Pakan)

Dosis Pakan (%)

Frekuensi Pemberian per

Hari  (kali)

Respon Udang dalam Anco (jam)

Dosis Pemberian

pada Anco

(%)

1 – 15

16 – 30

31 – 45

45 – 60

61 – 75

76 – 90

91 – 105

106 – 120

0,005 – 1,0

1,1 – 2,5

2,6 – 5,0

5,1 – 8,0

8,1 – 14,0

14,1 – 20,0

20,1 – 26,0

26,1 – 30,0

I (1)

I (1+2)

I+II (2+3)

II (3+4)

II (3+4)

II (4)

II+III(4+5)

III (5+6)

35 – 20

15 – 10

12 – 8

9 – 6

7 – 5

6 – 4

5 – 3

4 – 2

2 – 3

2 – 3

3 – 4

3 – 4

4 – 5

4 – 5

4 – 6

4 – 6

2,5 – 3,0

2,5 – 3,0

2,0 – 3,0

2,0 – 2,5

1,5 – 2,0

1,5 – 2,0

1,0 – 1,5

1,0 – 1,5

3 – 4

3

3

2 – 3

2

2

1 – 2

1 – 2

Sumber : Anonim, 2007

Rancangan Aplikasi Frekuensi Pemberian Pakan Buatan

Pada kegiatan rekayasa aplikasi frekuensi pemberian pakan buatan per hari pada budidaya udang intensif ini dilakukan pada 2 petak tambak pembesaran dan 1 petak tandon biofilter dan 1 petak treatmen, yaitu petak pembesaran pertama sebagai kontrol (K) dengan mengaplikasikan frekuensi standar maksimal dan petak pembesaran kedua sebagai perlakuan (P) dengan mengaplikasikan standar minimal, sedangkan dosis yang digunakan adalah dosis rata-rata dari dosis standar. Adapun rancangan aplikasi frekuensi pemberian pakan buatan per hari ini tersaji pada Tabel 4.

 

Tabel 4. Rancangan aplikasi frekuensi pemberian pakan buatan

 

No.

Umur

(bulan)

Dosis

(%)

Petak Kontrol

Petak Perlakuan

Frekuensi

(x)

Waktu

(jam)

Frekuensi

(x)

Waktu

(jam)

1

I

20 – 10

3

05.00

16.00

21.00

2

06.00 17.00

-

2

II

9 – 6

4

05.00

11.00

17.00

22.00

3

05.00 16.00

21.00

-

3

III

7 – 5

5

05.00

11.00

16.00

21.00

01.00

4

05.00

11.00

17.00

22.00

-

4

IV

4 – 2

6

05.00

09.00

13.00

17.00

21.00

01.00

5

05.00

11.00

16.00

21.00

01.00

-

 

Pemanenan

Panen dilakukan setelah mencapai umur pemeliharaan 120 hari. Teknik panen dilakukan dengan cara menangkap seluruh hewan uji dalam wadah. Untuk menjaga kualitas udang tetap segar , maka setelah udang ditangkap langsung ditimbang (berat total) setiap wadah dan ditampung kedalam box fiberglas dan  dimatikan dengan cara merendam  udang dengan air  es (suhu –10oC).

 

  1. III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan, SR (Sintasan) dan FCR

Dari data hasil pengamatan dan pengukuran terhadap pertumbuhan pertambahan berat rata-rata pada kedua petak udang windu yang dipelihara selama 120 hari terlihat adanya perbedaan yang cukup signifikan antara petak kontrol dan petak perlakuan (Tabel 5 dan Gambar 2). Namun tingkat keseragaman pertumbuhan dari waktu ke waktu setiap hasil pengambilan contoh sample menunjukkan tidak banyak perbedaan yang cukup mencolok antara petak kontrol dan petak perlakuan.

Perbedaan dalam hal berat rata-rata udang antara petak kontrol dan petak perlakuan ini adalah disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya kualitas dan nutrisi pakan, dosis dan frekuensi pemberian pakan, parameter kualitas lingkungan, ketersediaan pakan alami, bentuk dan ukuran petakan tambak serta sarana penunjang lainnya (Adiwidjaya et al. 2005). Dari pertambahan berat udang dapat ditentukan pula oleh manajemen pemberian pakan dalam hal faktor dosis dan frekuensi pemberian setiap hari yang harus tepat (Anonim, 2007). Frekuensi pemberian pakan per hari dapat mempengaruhi pertumbuhan dan SR udang serta FCR yang dihasilkan, dimana frekuensi pemberian pakan harus tepat karena setiap memberikan pakan harus dapat mencukupi untuk keseluruhan populasi udang pada satu frekuensi tertentu dalam satu wadah pemeliharaan (Adiwidjaya et al. 2005).

 

Tabel 5. Pertumbuhan rata-rata per ekor, sintasan (SR), biomass, FCR dan biomass

 

No.

Umur

(hari)

Petak Kontrol (K)

Petak Perlakuan (P)

Berat

Rerata (g)

SR

(%)

Biomass

(kg)

FCR

Berat

Rerata (g)

SR

(%)

Biomass

(kg)

FCR

1

1

0,035

100

0,056

0

0,035

100

0,056

0

2

30

2,30

91,0

33,5

0,45

2,50

92,5

37,0

0,41

3

40

3,40

88,3

48,0

0,62

3,70

90,3

53,5

0,56

4

50

5,10

86,4

70,5

0,78

5,50

88,4

77,8

0,71

5

60

6,80

82,5

89,8

1,23

7,10

86,5

98,3

1,12

6

70

8,50

80,6

109,6

1,46

9,30

84,7

126,0

1,27

7

80

11,40

78,8

143,7

1,46

12,50

82,3

164,6

1,28

8

90

13,90

77,6

172,6

1,59

15,75

80,2

202,1

1,36

9

100

17,00

75,6

205,6

1,63

18,20

78,6

228,9

1,46

10

110

19,50

74,1

231,2

1,69

21,30

76,5

260,7

1,50

11

120

22,30

70,2

250,5

1,76

23,80

75,4

287,1

1,53

Catatan : Luas petakan 400 m2 dengan padat tebar benur PL-15 sebanyak 16.000 ekor.

 

 

Gambar 2. Grafik pertumbuhan udang windu selama ujicoba

 

Frekuensi pemberian pakan tambahan (buatan berupa crumble dan pellet udang) pada budidaya udang, juga dapat mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup (SR – sintasan) dan FCR (Tabel 5). Data SR udang windu yang tercatat pada saat pemanenan hasil bahwa antara petak kontrol dengan petak perlakuan terlihat ada perbedaan yang cukup signifikan, yaitu pada petak kontrol sekitar 70,2% dan pada petak perlakuan sekitar 75,4% Demikian pula data FCR pada akhir pemeliharaan dari kedua petak ujicoba ada perbedaan yang cukup signifikan, yaitu petak kontol sekitar 1,76 : 1 dan petak perlakuan 1,53 : 1. Dengan adanya perbedaan berat rata-rata, SR udang dalam satu periode pemeliharaan akan mempengaruhi biomass dan nilai margin keuntungan pada saat udang akan dijual.

 

Gambar 3. Grafik SR dan Biomass udang windu antara petak kontrol dan petak perlakuan

Parameter Kualitas Air

Untuk perkembangan dan tingkat kelangsungan hidup (sintasan --- SR) udang yang dipelihara parameter kualitas air media harus berada pada kondisi yang optimal. Demikian pula pada kegiatan ujicoba ini dilakukan monitoring dan pengamatan parameter kualitas air media. Pengamatan parameter kualitas air yang dilakukan selama ujicoba berlangsung adalah pH, oksigen terlarut, nitrat, ammonia, bahan organik, suhu, salinitas, dan nitrit (Tabel 6).

3.2.1. Oksigen Terlarut (DO)

Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya temperatur, salinitas, pH dan bahan organik. Salinitas semakin tinggi, kelarutan oksigen semakin rendah. Kelarutan kandungan oksigen yang terukur pada kedua petak selama perekayasaan (ujicoba) berlangsung berkisar antara 3,55 – 5,4 ppm (Tabel 6). Kelarutan oksigen ini menunjukan kondisi yang optimal selama kegiatan ujicoba pada budidaya udang windu, sementara untuk kebutuhan minimal pada air media pemeliharaan udang adalah > 3 ppm (Anonim, 2007).

3.2.2. Suhu

Salah satu faktor pembatas yang cukup nyata dalam kehidupan udang ditambak adalah suhu ai media pemeliharaan. Seringkali  didapatkan  udang mengalami  stres dan  bahkan mati disebabkan oleh perubahan suhu  dengan rentang perbedaan yang tinggi. Keadaan seperti  ini sering  terjadi pada tambak dengan kedalaman kurang dari  satu meter. Sebagai contoh musim kemarau (musim bediding) dan perbedaan suhu yang sangat mencolok antara siang dan malam  hari.  Berdasarkan  hasil  penelitian  para ahli, terbukti bahwa pada suhu rendah metabolisme udang menjadi rendah dan secara nyata berpengaruh terhadap nafsu makan udang (Byod, 1989).  Hasil pengamatan dari kedua petak ujicoba terukur suhu air media berkisar antara 26,7 – 29,8oC, dari data kisaran suhu ini menunjukan cukup optimal untuk proses metobolisme udang yang dipelihara. Sedangkan nilai suhu optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan udang windu berkisar antara 28,0 – 31,5 0C (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991).

3.2.3. pH Air

Nilai pH perairan dengan variasi terkecil memiliki pengaruh yang besar terhadap ekosistem perairan, karena nilai pH perairan sangat berperan dalam mempengaruhi proses dan kecepatan reaksi kimia didalam air maupun reaksi biokimia di dalam tubuh organisme  serta dapat mempengaruhi daya racun suatu senyawa terhadap organisme air. Untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik organisme air (ikan dan udang) memerlukan medium dengan kisaran pH antara 6.8 – 8.5 (Ahmad, 1991 dan Boyd, 1991).  Pada pH  dibawah 4,5  atau diatas 9,0 ikan atau udang akan mudah sakit dan lemah, dan nafsu makan menurun bahkan udang cenderung keropos dan berlumut. Apabila nila pH yang lebih besar dari 10 akan bersifat lethal bagi ikan maupun udang. Nilai pH dari kedua petak kegiatan ini relatif dalam kondisi yang optimal dan fluktuasi harian termasuk kedalam batas yang masih aman.

3.2.4. Alkalinitas

Alkalinitas adalah kumpulan seluruh anion di dalam badan air. Alkalinitas menggambarkan  kapasitas penyangga air yang dinyatakan dalam mg/l dari CaCO3.  Semakin sadah air, semakin baik bagi usaha budidaya udang dengan nilai optimalnya  120 mg/l dan  nilai maksimumnya  200 mg/l sedangkan nilai minimal sekitar 70mg/l. Kesadahan total merupakan  istilah yang digunakan untuk menggambarkan proporsi ion magnesium dan kalsium (Anonim., 1985 dan Ahmad., 1991). Parameter ini diukur untuk menyediakan tambak udang dengan kondisi yang identik dengan lingkungan alaminya. Perairan dengan alkalinitas rendah mempunyai daya penyangga (buffer capacity) yang rendah terhadap perubahan pH. Alkalinitas air media pada kedua petak selama percobaan/perekayasaan berlangsung terukur berkisar antara 78,95 – 128,80 ppm, ini menunjukan bahwa alkalinitas air berada pada kisaran optimal, dimana untuk pertumbuhan udang yang baik dibutuhkan kisaran alkalinitas antara 100 – 120 ppm. Toleransi alkalinitas pada air media pemeliharaan udang di tambak berkisar antara 90 – 150 ppm (Anonim, 2007).

3.2.5. Salinitas

Salinitas (kadar garam) air media pemeliharaan pada umumnya berpengaruh tehadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang (Anonim, 1985). Udang windu dapat tumbuh dan berkembangan pada kisaran salinatas 5 – 30 ppt (Anonim, 1985 dan Ahmad, 1991), bahkan jenis udang windu mempunyai toleransi cukup luas yaitu antara 0 – 50 ppt. Namun apabila salinitas di bawah 5 ppt dan di atas 30 ppt biasanya pertumbuhan udang windu relatif lambat, hal ini terkait dengan proses osmoregulasi dimana akan mengalami gangguan  terutama pada saat udang sedang ganti kulit dan proses metabolisme. Salinitas air yang terukur dari kegiatan ujicoba ini pada kedua petak berkisar antara 28,3 – 39,2 ppt. Salinitas terendah terjadi pada awal penebaran, demikian secara bertahap salinitas ini meningkat hingga akhir pemeliharaan. Peningkatan salinitas mulai bulan kedua, hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan udang kurang optimal.

3.2.6. Bahan Organik

Kandungan bahan organik, baik pada perairan umum maupun petakan tambak dalam jumlah yang tinggi merupakan ancaman bagi kehidupan organisme. Hal ini akan mengalami pengendapan dan terdekomposisi menjadi senyawa yang bersifat racun bagi udang dan organisme lainnya, seperti hal ammonia (NH3), dan Nitrit (NO2). Kisaran optimal kandungan bahan organik untuk pemeliharaan udang adalah antara  50 – 60 ppm (Anonim, 2002), pendapat lain bahwa bahan norganik total dan TSS (total suspensi) berkisar antara 70 – 120 ppm.  Sementara bahan organik air pada kegiatan ujicoba ini terukur pada kisaran antara 72,35 - 120,5 ppm. Terjadi peningkatan kandungan bahan organik total (TOM) mulai pada umur bulan kedua,  namun secara umum kondisi ini masih dalam kondisi yang cukup baik.

3.2.7. Ammonia

Kandungan ammonia dalam air media pemeliharaan merupakan hasil perombakan dari senyawa-senyawa nitrogen organik oleh bakteri atau dampak dari penambahan pupuk yang berlebihan. Senyawa ini sangat beracun bagi organisme perairan walaupun dalam  konsentrasi yang rendah. Konsentrasi amonia yang mampu ditolerir untuk kehidupan udang dewasa < 0,3 ppm (Ahmad, 1991 dan Boyd, 1989), dan ukuran benih < 0,1 ppm.

Kosentrasi ammonia yang terukur pada kedua petak ujicoba menujukan nilai yang cukup rendah yaitu berkisar antara 0,011 – 0,04 ppm. Boyd (1989) melaporakan bahwa kosentrasi amoniak sebesar 0,045 ppm dapat mengurangi laju pertumbuhan udang penaeid sebesar 50%. Sedangkan kosentrasi ammonia yang disarankan dan aman di tambak adalah dibawah nilai 0,13 ppm. Pada salinitas air di atas 20 ppt, batas ambang aman amonium adalah <1,6 ppm (Lin dan Chen, 2001).

3.2.8. Nitrit

Kandungan nitrit yang tinggi didalam perairan sangat berbahaya bagi udang dan ikan, karena nitrit dalam darah mengoksidasi haemoglobin menjadi meta-haemoglobin yang tidak mampu mengedarkan oksigen (Spotte, 1979), kandungan nitrit sebaiknya lebih kecil dari 0,3 ppm. Kadar oksigen terlarut dalam air merupakan faktor pembatas dan sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses nitrifikasi. Nilai kosentrasi nitrit dari kedua petak ujicoba ini berkisar antara 0,012 – 0,018 ppm (mg/l), di bawah nilai ambang batas yang di sarankan. Sehingga dengan kandungan nitrit pada ujicoba ini termasuk kedalam kondisi yang cukup optimal. Pada salinitas di atas 20 ppt, batas ambang aman nitrit adalah < 2 ppm (Chen dan Lie, 1990).

 

Tabel 6. Data kisaran parameter kualitas air selama kegiatan perekayasaan berlangsung

 

No.

Parameter Kualitas Air

Petak

Kontrol

Perlakuan

1

DO (ppm)

3,55 – 5,38

3,62 – 5,40

2

Suhu (0C)

26,8 – 29,7

26,7 – 29,6

3

pH

7,8 – 8,3

7,8 – 8,2

4

Salinitas (ppt)

28,3 – 39,2

28,4 – 39,2

5

Alkalinitas (ppm)

79,85 – 126,75

78,95 – 128,80

6

Bahan organik (ppm)

76,98 – 120,5

72,35 – 102,15

7

NH3 (ppm)

0,012 – 0,04

0,011 – 0 ,04

8

NO2 (ppm)

0,015 – 0,018

0,012 – 0,015

Parameter Kualitas Tanah (Sedimen)

Parameter kualitas media dasar tambak pada budidaya udang merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat keberhasilan dan produkstivitas tambak itu sendiri. Hampir semua jenis udang menempati dan hidup dibagian dasar (bottom) kolam/tambak, bagian dasar tambak berpengaruh langsung dan berinteraksi terhadap hampir semua parameter kualitas lingkungan media pemeliharaan udang. Untuk itu, dalam proses produksi udang di tambak diperlukan pengendalian dan pengelolaan sedimen dasar tambak secara optimal agar udang dapat tumbuh dan tingkat kelangsungan hidup yang optimal, sehingga dapat meningkatkan produkstivitas tambak.

Beberapa partameter kualitas dasar tambak yang perlu diperhatikan pada budidaya udang windu, diantaranya : bahan organik, pH, dan redoks potensial. Adapun hasil dari rekayasa teknik pengelolaan sedimen dasar tambak selama pemeliharaan pada budidaya udang vaname secara intensif di tambak BBPBAP – Jepara, adalah sebagai berikut :

3.3.1. Bahan Organik

Bahan oganik dalam tanah merupakan sumber pollutan di lingkungan perairan, khususnya  lingkungan tambak. Limbah kotoran udang dan sisa pakan serta organisme yang mati  akan mengalami akumulasi di dasar tambak, sehingga dalam proses dekomposisinya akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat gas-gas beracun yang berdampak negatif seperti H2S, NH3 dan gas lainnya. Gas-gas beracun yang ditimbulkan akibat proses dekomposisi bahan organik pada sedimen dasar tambak dapat menyebabkan udang/ikan keracunan dan menjadi stres bahkan kematian (Ahmad, T., 1991 dan Boyd, 1992). Secara umum bahan organik tanah dapat dikendalikan dengan cara mengoptimal pada saat proses persiapan awal. Untuk mengeliminir bahan organik tanah dapat dilakukan beberapa cara, yaitu lakukan proses pengeringan, pembuangan sisa kotoran (pengupasan), pencucian, pembalikan/pengolahan dan pengupasan tanah dasar, serta pengapuran secukupnya (Adiwidjaya, et al, 2002). Kandungan bahan organik tanah yang ideal berkisar antara 6 – 9% (Anonim, 1985 dan  Boyd, 1992)

Dari data hasil pengamatan pada kedua petak tambak sejak bulan pertama hingga bulan keempat kandungan bahan organik sedimen dasar tambaknya cenderung meningkat dengan kisaran antara 9,2 – 12,5%. Hal ini dapat dipahami, karena dengan adanya pemberian pakan tambahan akan mengahasilkan feces dan sisa pakan yang tidak terkonsumsi oleh udang serta adanya organisme yang mati (Tabel 7). Dengan kisaran bahan organik tanah pada kedua petak tersebut hampir mendekati kondisi bahan organik tanah yang optimal, yakni masih berada dalam kondisi yang layak bagi kehidupan udang (Anonim, 2007). Bahan organik sedimen dasar tambak (penumpukan lumpur) secara tidak langsung dapat mempengaruhi pula kandungan bahan organik air yang tersuspensi (TOM – total organic matter) (Boyd, 1992).

3.3.2. pH

Tingkat kesaman (pH) tanah banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor pembentuknya, antara lain bahan organik dan berbagai jenis organisme air yang mengalami pembusukan, logam berat (besi, timah dan bouksit, dll). Biasanya pH tanah dasar tambak yang rendah diikuti tingginya kandungan bahan organik tanah yang terakumulasi dan tidak terjadi oksidasi yang sempurna (Anonim, 1985). pH tanah yang rendah cenderung dipengaruhi oleh kandungan logam berat seperti besi, timah dan logam lainnya. pH tanah yang optimal untuk kegiatan budidaya udang dan ikan berkisar antara 6,5 – 8,0 (Boyd, 1992).

Hasil pengukuran nilai pH pada kedua petak tambak pemeliharaan udang windu baik pada petak kontrol (frekunsi maksimal) maupun pada petak perlakuan (frekuensi minimal) masih dalam kondisi yang cukup optimal (Tabel 7). Terjadinya kestabilan ph ini disebabkan adanya pengelolaan air yang optimal dan aplikasi kapur secara periuodik.

3.3.3. Redoks Potensial

Potensial redoks pada sedimen dasar tambak adalah menggambarkan intensitas oksidasi dan reduksi yang terjadi (Boyd, 1992). Potensial redoks (Reduksi-Oksidasi). Bila bahan-bahan tereduksi sudah teroksidasi (termasuk bahan organik) maka nilai Potensial Redoks (ORP = Oxydation-Reduction Potential) positif. Potensial redoks tanah dasar tambak  untuk budidaya udang tidak lebih dari minus 150 m.V (Boyd, 1992). Salah satu parameter kualitas sedimen dasar tambak adalah redoks potensial, karena redoks menggambarkan sejumlah senyawa yang potensial teroksidasi atau tereduksi.

Potensial redoks pada kedua petak ujicoba ini terlihat tidak terlalu mengalami fluktuasi yang yang tajam selam pemeliharaan udang windu intensif ini, yaitu terendah – 45 m.V dan tertinggi pada akhir pemeliharaan148 m.V. Kejadian peningkatan potensial redoks selama pmeliharaan dapat dikatakan normal, karena selama pemeliharan terjadi akumulasi bahan organik pada dasar sedimen tambak akibat sisa kotoran udang, pakan yang tidak terkonsumsi dan organisme yang mati (Boyd, 1992).

 

Tabel 7. Kisaran parameter kualitas sedimen dasar selama pemeliharaan

 

No.

Umur

(hari)

Petak Kontrol (K)

Petak Perlakuan (P)

BO

(%)

pH

Redoks

(m.V)

BO

(%)

pH

Redoks

(m.V)

1

1 – 30

9,8 – 11,6

6,8 - 7,5

-48s/d -77

9,5 - 11,7

6,9 - 7,5

-45 s/d -73

2

31 – 60

11,5 - 11,8

6,6 - 7,4

-88s/d -97

11,3 - 12,2

6,7 - 7,4

-89s/d -101

3

61 – 90

11,3 – 12,3

7,0 - 7,5

-101 s/d -135

11,8 - 12,1

6,8 - 7,7

-99s/d -131

4

91 – 120

11,7 - 12,5

6,8 - 7,6

-98s/d -148

11,8 - 12,3

6,8 - 7,6

-124s/d -145

 

3.4. Total Vibrio dan Total Bakteri

Populasi dan kemelimpahan vibrio dan bakteri pada air media pemeliharaan dan fluktuasinya merupakan salah satu indikator penting terhadap keberhasilan budidaya udang di tambak. Keberadaan kemelimpahan bakteri dan vibrio pada air media pemeliharaan dapat untuk mendeteksi dini serangan penyakit,  tetapi juga sekaligus dapat menunjukkan adanya penurunan kualitas lingkungan tambak (Prastowo, 2007). Lebih lanjut dikatakan bahwa kemelimpahan vibrio 102 – 103 CFU/ml merupakan level aman, 103 – 104 CFU/ml merupakan level stress dan > 104 CFU/ml merupakan level kritis, dengan dominasi vibrio bakteri adalah < 5% level aman, 6 – 10% adalah level stress dan > 10 % adalah level kritis. Selain itu, baik bakteri maupun vibrio tetap harus diwaspadai yang berada di kolom air dan dasar sedimen tanah, juga ditubuh organisme (udang) perlu diperhatikan kemelimpahannya (Taslihan, et al. 2003).

Hasil pengamatan dan analisa laboratorium kemelimpahan total bakteri dan vibrio pada kedua petak ujicoba yang diambil saat contoh samplenya menjelang panen terlihat dalam kondisi aman dan tidak membayahakan bagi udang dan juga bagi konsumen. Hasil ini diamati pada kolom air dan tubuh udang windu dengan kisaran yang aman baik kemelimpahan total bakteri maupun kemelimpahan total vibrionya, yaitu berkisar antara 102 – 103 CFU/ml (Tabel 8). Bakteri yang berbahaya bagi manusia dalam hewan akuatik, termasuk udang dari budidaya di tambak adalah dari jenis Salmonella (Rukyani, A. 2002), kemelimpahan bakteri dari jenis Salmonella dalam tubuh udang yang membahayakan bagi konsumen tidak lebih dari 105 CFU/ml.

 

Tabel 8. Kemelimpahan bakteri pathogen dan vibrio (hasil pengamatan pada menjelang panen)

 

No.

Media

Petak Kontrol

Petak Perlakuan

Total Bakteri

(CFU/ml) 

Total Vibrio

(CFU/ml) 

Total Bakteri

(CFU/ml) 

Total Vibrio

(CFU/ml) 

1

Air Media

1,7x102 – 1,4x103

1,6x102 – 1,5x103

1,5x102 – 1,6x103

1,6x102 – 1,4x103

2

Tubuh Udang

1,4x102 – 1,4x103

1,3x102 – 1,4x103

1,4x102 – 1,5x103

1,2x102 – 1,3x103

 

  1. IV. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil perekayasaan ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  • Pertumbuhan berat rata-rata, sintasan (SR) dan FCR pada petak perlakuan frekuensi pemberian pakan standar minimal menunjukkan hasil yang cukup baik bila dibandingkan dengan petak kontrol pada frekuensi pemberian pakan maksimal, yaitu berat rata-rata : 23,8, SR : 75,4% dan FCR : 1,53 : 1.
  • Demikian pula dari segi biomass, bahwa petak perlakuan memberikan jumlah biomass yang lebih baik sehingga dapat memberikan margin keuntungan yang lebih baik pula bila dibangingkan dengan petak kontrol,
  • Parameter kualitas air, tanah dan kemelimpahan bakteri pathogen pada kedua petak ujicoba tidak terjadi perbedaan yang mencolok,
  • Frekuensi pemberian pakan yang tepat pada budidaya udang windu intensif dapat memberikan hasil yang cukup efektif, efisien dan ekonomis serta berkelanjutan. 

Saran

Sedangkan saran yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah :

  • Perlu kajian dan ujocoba perekayasaan skala lab./model dalam hal uji formulasi dan nutrisi lebih lanjut,
  • Perlu kajian dan ujocoba perekayasaan lebih lanjut pada berbagai komoditas budidaya tambak dan lokasi kegiatan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adiwidjaya D., Erik. S. Dan Dwi, S. 2003.  Produktitivitas Pada Budidaya Udang Windu Sisitem Tertutup.  Peluang Usana Untuk Mencari Nilai Tambah Bagi Petambak. Balai BPBAP. Jepara. Pertemuan Pra Lintas UPT Budidaya Air Payau dan Laut, Ditjen Perikanan Budidaya, Jepara September 2003. 39 p.

Adiwidjaya, A., Triyono, Herman, Aris Supramono dan Subiyanto, 2005. Manajemen Pakan dan Pendugaan Populasi Pada Budidaya Udang. DKP. Ditjen. Perikanan Budidaya. BPBAP. Jepara. 15 hal.

Ahmad, T.  1991. Pengelolaan Peubah Mutu Air yang Penting dalam Tambak Udang Intensif.  Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai. Maros.

Andrews, J.W. and Sick, L.V. 1972. Studies on Nutritional Requirement of Dietary Penaeid Shrimp. Proceeding of the Mariculture Society 3:403-414.

Anonim, 1985. Pedoman Budidaya Tambak. Ditjen. Perikanan. Balai Budidaya Air Payau. Jepara. 225 p.

Anonim, 1992. Plankton Management and Shrimp Culture. Pub. The Asian Shrimp Culture Council. Asian Shrimp News. No. 9.

Anonim,. 2007. Penerapan Best Management  Practices  (BMP) Pada Budidaya Udang Windu

(Penaeus monodon Fabricius) Intensif. Juknis. Departemen Kelautan dan Perikanan. Ditjen. Perikanan Budidaya. BPBAP. Jepara. 68 p.

Boyd, C.E. dan C.S.Tuker, 1998. Pond Aquaculture  Water Quality Management. Kluwer Academic Publisher. Boston. 700 p.

Boyd, C.E. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. DV. In Aquaculture and Fish Science. Vol. 9. Elsevier Scientific. Pub. Comp.

Boyd. C.E. 1989. Water Quality Management and Aeration in Sdrimp Farming. Fisheries and allied Aquacultures Departement Series No.2. Alabama Agramiculture Experiment Station. Auburn University. Alabama.

Boyd,C.E. 1992. Shrimp Pond Bottom Soil and Sediment Management. In Wyban, J.(Ed) Proseding of The Spscial Session on Shrimp Farming. World Aquaculture Society, Baton Rouge, p : 166-181.

Boyd, C.E. 1999. Code of Practice For Responsible Shrimp Farming. Global  Aquculture Alliance, St. Louis, MO USA, 42 p.

Briggs, M., Funge-Smith, S., Subasinghe, R., Phillips, M., 2004. Intruductions and movement of Penaeus Penaeus vannamei and P. stilyrostris in Asia and the Pasific. FAO, RAP Publication 2004/10. Regional office for Asia and Pasific, Bangkok.

Burford. M.A., K.C. Williams, 2001. The fate of nitrogenous waste from shrimp feeding Aquaculture 198, 79-93.

New, N.B., 1987. Feeds aand Feeding of Fish and Shrimp. Anual on The Preparation and Presentation of Compound Feed for Shrimp and Fish in Aquaculture ADCP/REP/87/26,UNDP/FAO.275 p.

Prastowo, BW. 2007. Fluktuasi dan kemelimpahan bakteri vibrio di tambak sebagai indikator serangan penyakit bintik  putih (white spot) di tambak udang Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Departemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Balai Besar pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara.

Rukyani, A. 2002. Disease of farmed shrimp in Indonesia : the current status. Key note speech in : ACIAR – CBAD WORKSHOP ON SHRIMP DISEASE DIAGNOSIS AND HEAALT MANAGEMENT. Jepara 2 – 8 May.

Tacon, A. 1987. The Nutrition and Feeding of Farmed and Shrimp – A Training Manual 3. Feeding Methods. The Field Document N0. 7/B., FAO-Italy.208 p.

Taslihan, A., Erik S., Supito., Lideman. 2003. Disseminasi Teknologi Budidaya Udang Bebas Penyakit Bercak Putih Viral Bagi Petambak Skala Menengah. Media Budidaya Air Payau. ISSN : 0853-7313. Nomor : 1 Tahun 2003

 

BBPBAP Tweet