Kelompok Kegiatan Pakan Hidup dan Buatan
Maraknya kegiatan akuakultur telah diwarnai dengan variasi teknologi produksi hingga pada keragaan spesies yang dibudidayakan. Introduksi pakan buatan sebagai salah satu factor produksi semakin penting guna meningkatkan produksi serta aman bagi lingkungan budidaya. Untuk mencapai sasaran tersebut, kegiatan produksi pakan diarahkan pada dua hal pokok, yaitu :
- Menghasilikan formulasi pakan yang sesuai kultivan dengan biaya produksi relative murah.
- Penggunaan pakan tidak hanya terbatas sebagai sumber energi utama bagi kultivan, namun sekaligus diarahkan sebagai perantara dalam mencegah terjadinya serangan penyakit bagi kultivan (medicated feed).
Dari kedua sasaran tersebut di atas, telah diimplementasikan dalam dua kegiatan pokok sebagai berikut :
a. Optimalisasi penggunaan bahan baku lokal
Penggunaan bahan baku local potensial untuk kepentingan budidaya tidah hanya berfungsi untuk menekan biaya produksi, tetapi sekaligus menjamin kontinuitas bahan untuk kepentingan pembuatan pakan. Penggunaan “Cost Effective Feed” semakin dengan target “Farm Made Feed” semakin diperlukan mengingat harga pakan komersial yang cenderung meningkat. Hal ini berdampak pada produktivitas usaha yang lebih rendah.
Ketergantungan terhadap penggunaan tepung ikan harus dikurangi semaksimal mungkin yang terkait oleh fenomena global seperti : barang kompetitif, mahal, barang import, serta kelangkaan suplai.
Optimasi penggunaan bahan baku dapat ditempuh melalui penggunaan bahan baku local terutama bahan dari tumbuhan (plant material) seperti : jagung, dedak, ampas tahu, tepung singkong dan berbagai jenis bahan potensial lainnya.
Cara lain yang dapat ditempuh adalah melalui peningkatan kecernaan bahan melalui teknologi fermentasi baik aerob maupun anaerob.
Silase ikan sebagai salah satu produk pengolahan ikan dan atau limbah ikan melalui proses autolisis pada kondisi asam dapat digunakan sebagai bahan baku pakan maupun sebagai atraktan. Teknologi pembuatan relative sederahana serta biaya produksinyapun lebih murah.
Sebagai bahan baku pakan, silase ikan telah dibuktikan untuk beberapa spesies budidaya termasuk ikan dan udang dengan kadar nutrisi yang cukup memadai. Selain kadar protein dan lemak cukup tinggi, produk silase dapat meningkatkan kecernaan pakan oleh karena tersedia dalam bentuk rantai peptida.
Pengujian penggunaan silase pada beberapa ikan herbivore (bandeng, barongan) menunjukkan bahwa silase ikan termasuk sumber protein hewani yang baik dan sekaligus dapat menggantikan fungsi tepung ikan. Di samping itu, biaya produksi pakan dapat ditekan dan jauh lebih murah dibandingakan dengan pakan komersial. Sendangkan untuk komoditas udang, fungsi silase masih terbatas sabagai atraktan sehingga masih diperlukan kajian lebih lanjut. Sementara penggunaan silase untuk produksi missal rotifer telah terbukti bahwa silase dapat menggantikan fungsi mikro-alga untuk proses reproduksi rotifer.
b. Penggunaan esensial nutrient untuk peningkatan ketahan benih.
Aplikasi beberapa mikro-nutrien seperti vitamin C, E dan asam lemak omega-3 tidak diragukan lagi sebagai nutrient esesnsial terutama pada stadia larva baik ikan dan udang. Dari beberapa kajian yang dilakukan khususnya pada produksi benih udang windu, menunjukkan bahwa penambahan mikro nutrient tersebut sangat penting dalam mendukung sintasan, pertumbuhan dan ketahanan terhadap stress dan penyakit.
Berkaitan dengan sifat bahan yang variatif (kestabilan dan daya larut), terbukti bahwa penerapan teknik bio-enkapsulasi pakan hidup baik rotifer maupun artemia adalah efektif sebagai media transrer dari nutrient esensial yang diberikan. Dilihat dari segmen usaha (produksi larva), penambahan bahan tersebut secara otomatis akan meningkatkan biaya produksi. Namun demikian, ditinjau dari rantai pemeliharaan dan kepentingan produksi secara umum (termasuk pembesaran di tambak), penambahan biaya tersebut relatif kecil.
Sebagai salah satu pendukung terhadap keberhasilan budidaya ikan dan udang, kelompok kegiatan nutrisi pakan alami menyediakan kultur plankton dalam biakan murni, skala bibit dan skala masal. Pemanfaatan biakan murni dalam bentuk cair atau padat selain sebagai kultur stock juta sebagai inokulan dalam kultur bibit. Selanjutnya dari kultur bibit dikembangkan ke skala masal yang digunakan sebagai pakan alami bagi komoditas budidaya. Adapun jenis plankton yang disediakan adalah Chlorella vulgaris, Skeletonema cotatum, Chaeotoceros calcitrans, Dunaliella salina, Tetraselmis chuii, Sprirulina platensis dan Brachionus plicatilis.
Disamping menyediakan plankton untuk keperluan balai, juga dimanfaatkan sebagai bahan penelitian mahasiswa, instansi terkait serta pihak swasta yang bergerak dalam bidang budidaya perikanan.
Dalam upaya diversifikasi dan pelestaian jenis plankton, selain melaukan reisolasi yang telah ada juga dilakukan penambahan jenis plankton baru melalui hasil isolasi dari alam, yaitu jenis Torulopsis candida var. marine. Jenis ini merupakan yeast yang hidup di perairan laut dan dapat ditingkatkan dalam media yang diperkaya dengan pupuk organik dan sintetik.
Untuk efisiensi dan efektivitas pemanfaatan kultur skala masal, telah dikembangkan teknik pemanenan melalui system pengendapan sel sehingga mempermudah dalam pengemasan, transportasi dan distribusi inter dan antar pulau. Penyediaan plankton bagi konsumen tidak hanya dalam bentuk segar, namun telah dilakukan upaya peningkatan nilai tambah pada produk pasca panen berupa tepung alga. Dengan menggunaakan sarana dan cara sederahana telah dapat dihasilkan tepung alga kering yang dapat dimanfaatkan baik untuk komoditas budidaya maupun untuk menunjang kesehatan manusia.



