Kegiatan Manajemen Kesehatan Hewan Akuatik
Kebutuhan akan pengelolaan lingkungan akuatik tidak dapat dilepaskan dalam pengembangan teknik akuakultur. Kondisi lingkungan akuatik merupakan salah satu penentu produksi secara masal. Oleh karena itu dalam penerapan teknik akuakultur selalu diupayakan kondisi yang sesuai bagi hewan kultivan yang dibudidayakan. Pengkajian mengenai teknik pengendalian dan perlindungan lingkungan tersebut telah dilakukan secara terus menerus sesuai dengan komoditas yang dikembangkan.
Pengembangan teknik pengendalian penyakit ikan dan udang sudah lama dikembangkan seiring dengan kemjuan teknologi budidaya dengan permasalahan yang ditimbulkannya. Pengenalan organisme pathogen dalam diagnosis penyakit dapat dilakukan pada laboratorium utama yaitu parasitologi, mikrobiologi dan hispatologi.
Secara garis besar kelompok kegiatan ini melaksanakan fungis pelayanan, pengujian, pemantauan dan pengembangan dalam metode diagnosis penyakit ikan dan udang.
Secara garis besar kelompok kegiatan ini melaksanakan fungis pelayanan, pengujian, pemantauan dan pengembangan dalam metode diagnosis penyakit ikan dan udang.
1. Pelayanan
Pelayanan pada masyarakat meliputi :
- Bimbingan dalam bidang pemerikasaan kesehatan ikan dan udang
- Pelayanan dalam bidang pengujian benih ikan dan udang bebas penyakit
- Menyelenggarakan kegiatan pelatihan bagi staf pemerintah dan swasta untuk peningkatan kinerja
- Bimbingan terhadap mahasiswa, staf perguruan tinggi dan instansi lainnya dalam melakukan kegiatan kajian ilmiah.
2. Pengujian
Pengujian yang dilakukan meliputi :
Pengujian terhadap bahan pengendali hama dan penyakit agar mendapatkan bahan dengan mutu standard dan sesuai dengan peruntukannya. Bahan yang diuji meliputi : pestisida, obat-obatan dan probiotik.
Aspek pengujian meliputi efektivitas, tingkat resistensi dan presistensi serta pengaruhnya terhadap ekosistem. Pengujian terhadap spesies baru (alien spesies) yang masuk kewilayah Indonesia, untuk mengeliminasi masuk dan tersebarnya penyakit baru.
Pengujian terhadap bahan pengendali hama dan penyakit agar mendapatkan bahan dengan mutu standard dan sesuai dengan peruntukannya. Bahan yang diuji meliputi : pestisida, obat-obatan dan probiotik.
Aspek pengujian meliputi efektivitas, tingkat resistensi dan presistensi serta pengaruhnya terhadap ekosistem. Pengujian terhadap spesies baru (alien spesies) yang masuk kewilayah Indonesia, untuk mengeliminasi masuk dan tersebarnya penyakit baru.
3.Pemantauan dan Monitoring
Fungsi monitoring menitikberatkan pada :
- Pemantauan terhadap mewabahnya penyakit yang mungkin akan berdampak pada produki perikanan dan memberikan informasi system pengendalian.
- Pengawasan terhadap penggunaan obat dan pestisida yang dipergunakan oleh petambak untuk menjaga kemungkinan salah penggunaan bahan pengendali hama dan penyakit yang pada akhirnya akan berdampak pada kualitas produk perikanan yang dihasilkan.
4. Pengimbangan Metode Sistem Diagnosis Penyakit
Perkembangan dalam diagnosis penyakit sangat pesat, terutama dari aspek teknologi yang diaplikasikan. Untuk menjaga validitas data, kinerja dalam diagnosis penyakit selalu diuji dan diperbaharui. Metode diagnosis terkini seperti PCR (Polymerase Chain Reaction) terhadap virus bercak putih (SEMBV), penggunaan teknologi imunokimia untuk RSV (Taura Syndrom Virus) telah diuji dan hasilnya telah disosialisasikan kepada masyarakat. Untuk tujuan pengujian yang bersifat praktis dan cepat metode konvensional juga masih diperugunakan dan disempurnakan meliputi pengujian secara mikrobiologis, makro anatomi dan uji patoklinis.




