1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>
Senin, 06 Februari 2012
Berkas Download
Halaman Awal Pencarian Berkas Kirimkan Berkas
Katagori: Artikel
Halaman: 1 dari 2  >> 
Berkas:
Rekayasa pemeliharaan postlarva udang vaname Melalui pemindahan ke dalam berbagai Kapasitas wadah

 

               Selama ini pada unit pembenihan menggunakan satuan volume atau luasan bak pemeliharaan yang minimal berkapasitas 10 m3. Kapasitas volume wadah tersebut umumnya dipertahankan hingga panen. Untuk udang yang bersifat benthic seperti udang windu, sistim tersebut sangat memadai walaupun dibutuhkan sarana dan prasarana yan lebih besar. Sebaliknya pada udang vaname, Litopenaeus vannamei yang lebih bersifat melayang dalam kolom air maka akan lebih memanfaatkan volume media pemeliharaan dibandingkan luasan wadah. Di beberapa unit pembenihan udang penaeid telah diterapkan sitim pemeliharaan benih dengan cara pemindahan kedalam wadah baru setelah benih melewati setengah masa pemeliharaan. Penerapan sistim pemindahan kedalam wadah berukuran lebih kecil atau volume air lebih rendah memungkinkan benih lebih efektif dalam memanfaatkan pakan, benih tumbuh lebih cepat, kehidupannya relatif tinggi dan efisien dalam penggunaan air. Oleh karena itu dicoba sistim tersebut dalam pemeliharaan postlarva udang vaname.

         

              Metode perekayasaan dimulai dengan pemeliharaan nauplius udang vaname, L. vannamei induk udang nusantara I hasil selective breeding dari BBAP Situbondo hingga stadia postlarva umur 4 hari (PL4) dalam wadah bak ukuran 4 x 2 x 1,5 m dengan volume air 10 m3. Seluruh benih PL4 dipindahkan ke masing-masing bak outdoor, ukuran 2 x 1,5 x 6 m berisi air volume 3 m3 dan 5 m3 serta 7 m3 hingga umur PL12. Pada perlakuan kontrol, postlarva tetap dipelihara dalam wadah pemeliharaan indoor yang sama (tanpa pemindahan ke wadah baru) dengan volume 10 m3. Media pemeliharaan PL diisi air dari media awal sesuai volume perlakuan masing-masing. Penggantian air pada pemeliharaan postlarva dalam wadah perlakuan dilakukan tiap hari pada pagi hari sebanyak 30 % (stadia PL4-PL8) dan 50 % (stadia PL9 hingga PL12) dari volume media pemeliharaan masing-masing perlakuan dan kontrol. Air segar dialirkan selama 12 jam mulai sore hingga pagi hari dengan debit 1 liter/10 detik.

 

              Hasil perekayaaan menunjukkan bahwa secara keseluruhan terjadi penurunan populasi yang cukup besar setelah perubahan ke stadia postlarva 4 (PL4) dan terus menurun setelah pemindahan ke wadah yang baru dengan volume media lebih rendah. Kehidupan postlarva 12 hari (PL12) tertinggi diperoleh pada perlakuan pemindahan kedalam wadah volume 5 m3 yaitu 27,20 %. Selanjutnya 22,94 %; 22,05 % dan 21,44 % masing-masing untuk volume 3 m3, 10 m3 dan 7 m3 yang dihitung dari jumlah penebaran nauplius. Sedangkan terhitung dari jumlah penebaran PL4 tingkat kehidupan PL12 maka kehidupan postlarva adalah 83,95 %, 73,88 %, 67,84 % dan 66,58 % masing-masing untuk perlakuan P5, P3, K dan P7. Rata-rata pertumbuhan panjang dan berat PL12 tertinggi dicapai oleh perlakuan pemindahan kedalam volume 5 m3 yaitu 7,96 mm dan 1,866 mg/ekor dibandingkan perlakuan lain (3 m3, 7 m3 dan 10 m3 atau kontrol). Identifikasi virus pada PL12 untuk semua perlakuan diketahui positif terhadap IHHNV dan positif TSV hanya pada perlakuan pemindahan kedalam volume 5 m3 .

Kata kunci : Postlarva, vaname, kapasitas bak




Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
12-09-2011
90.16 KB
7
PEMBERDAYAAN PETAMBAK DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI YANG TEPAT PADA DISEMINASI BUDIDAYA UDANG DI TAMBAK RAKYAT

Abstrak

 

            Keberhasilan kegiatan budidaya udang di tambak merupakan pondasi/dasar kegiatan utama dari kelangsungan usaha secara keseluruhan dari budidaya udang, yaitu meliputi usaha sarana dan prasarana produksi, usaha pembenihan, usaha pasca panen dan pemasaran. Hal ini dapat dipahami bahwa dengan keberhasilan kegiatan usaha budidaya udang di tambak akan secara langsung dapat menggerakan kegiatan usaha lainnya (multiplayer effect). Dengan keberhasilan teknologi budidaya udang tersebut akan berpengaruh sangat luas pada subsektor perikanan dan subsektor lainnya, dimana pada gilirannya dapat meningkatkan serta menambah lapangan dan kesempatan kerja.

Kegiatan yang telah dilakukan   untuk segera menggerakan sektor pengembangan usaha budidaya udang antara lain aplikasi tepat guna (efisien dan ekonomis) dari hasil perekayasaan teknologi kepada petambak, yang mana petambak merupakan basis utama sebagai pelaku usaha budidaya udang dengan kondisi sangat memerlukan pendampingan teknologi melalui diseminasi teknologi di tambak rakyat. Pola diseminsi teknologi yang dilakukan dengan cara memberdayakan petambak agar dapat swadana melalui penguatan modal secara bergulir dan penerapan tingkat teknologi budidaya disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kemampuan petambak.

Pola pemberdayaan petambak pada diseminasi ini adalah dengan cara pendampingan teknologi serta kerjasama pembagian (sharing) modal operasional dengan petambak secara bertahap. Setiap tahap (siklus budidaya) peranan petambak (baik permodalan dan teknis) semakin meningkat, sehingga akhirnya petambak dengan kemampuan tersebut dapat melakukan sendiri dalam kegiatan usaha budidaya udang.

Dari hasil kajian selama pelaksanaan disseminasi yang telah berlangsung selama 2 siklus pemeliharaan menujukan adanya keberhasilan. Keberhasilan secara teknis dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat dapat memproduksi udang pada siklus pertama 1.250 kg (1.893 kg/Ha) dan pada siklus ke dua 1.817 kg (2.753 kg/Ha) dengan musim pemeliharaan yang berbeda. Dampak keberhasilan dari kegiatan dan aplikasi teknologi budidaya udang ini adalah berkembangnya kawasan tambak udang di sekitar kegiatan diseminasi dan pemahaman tentang sistem budidaya tersebut dengan swadana oleh petambak.  

 




Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
25-08-2011
3.05 MB
3
APLIKASI PROBIOTIK PADA KEGIATAN USAHA PERIKANAN BUDIDAYA : Salah Satu Faktor Untuk Meningkatkan Produktivitas Hasil Budidaya Ikan/Udang Yang Berwawasan Lingkungan

Abstrak

Pergeseran lingkungan secara menyeluruh di kawasan pertambakan di Indonesia yang merupakan kawasan budidaya udang masih dipandang sebagai faktor yang tidak diperhitungkan. Timbulnya permasalahan plankton yang tidak stabil pada tarap awal akan memberikan tingkat kelangsungan hidup udang yang rendah, pertumbuhan yang tidak maksimal dan mendorong terhadap parameter lain bersifat ektrim, bahkan berlanjut kepada kepada kondisi udang stres dan mudah terserang penyakit yang mematikan

Bertujuan untuk memperoleh keseimbangan parameter kunci kualitas lingkungan air media pemeliharaan udang dan untuk memperoleh kestabilan plankton di tambak sehingga diharapkan memperoleh produksi yang optimal. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah : 1) Untuk mendapatkan sintasan (SR) udang yang dipelihara di atas 65 % dan target berat rata-rata sekitar 27 gram; 2) Efektifitas probiotik terhadap penguraian bahan organik air dan tanah; dan 3) kestabilan kemelimpahan plankton, yaitu > 8.000 sel/cc.

Tahap awal penyiapan air media dilakukan pemupukan dengan tujuan agar plankton tumbuh dan kemelimpahannya stabil. Saat penyiapan air media, probiotik diaplikasikan pada semua unit tambak yang digunakan. Sedangkan setelah dilakukan penebaran hingga menjelang panen aplikasi probiotik hanya pada petak pembesaran udang. Dosis yang digunakan berkisar antara 0,5 – 1,5 ppm dengan frekuensi pemberian 2 – 3 kali per minggu. Sedangkan jenis probiotik (bakteri pengurai) yang digunakan adalah Bacillus spp.

Hasil kegiatan yang terpantau, bahwa keberadaan kemelimpahan bakteri pengurai (Probiotik --- Bacillus spp) pada petak pembesaran berkisar antara 106 – 108, sedangkan pada petak endapan (saluran buang) mencapai 109. Rata-rata produksi udang windu dari 3 periode pemeliharaan yang menggunakan probiotik dengan kepadatan tebar antara 10 – 14 ekor/m2, yaitu mencapai 2.650 kg/8.000 m2 atau 3.300 kg /MT/ha, sedangkan 1 periode (siklus I) tanpa probiotik dengan panen premateur mencapai 585 kg (size ± 90). Data parameter kualitas lingkungan relatif stabil selama masa pemeliharaan. Aplikasi probiotik pada budidaya udang sistem tertutup dapat memberikan nilai tambah dari segi peningkatan survival rate (SR : 74 – 82 %), sehingga pada akhirnya memperoleh biomas yang optimal..           

 

Kata Kunci : Produktivitas, Probiotik, Udang Windu, Tambak Sistem Tertutup, Bacillus sp, Siklus




Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
26-07-2011
522.46 KB
18
TEKNIK BUDIDAYA UDANG WINDU (P. monodon) INTENSIF DENGAN GREEN WATER SYSTEM MELALUI APLIKASI PUPUK NITRAT DAN PENAMBAHAN SUMBER UNSUR KARBON

Oleh :

 Supito dan Darmawan Adiwidjaya

 Abstrak

Perubahan lingkungan tambak yang drastis akan menyebabkan udang stres dan lemah serta memacu serangan patogen penyakit. Menjaga kestabilan lingkungan melalui green water system, yaitu menjaga kestabilan plankton dengan dominasi Chloropiceae melalui penambahan pupuk nitrat dan penambahan sumber karbon (tepung tapioka). Ujicoba dilakukan pada pada tambak sebanyak 2 unit dengan luas masing-masing 1.000 m2.

Kontruksi pematang terbuat dari pasangan batu (concreat) dengan dasar tambak dari tanah (70%) dan betuk petakan bulat. Lay out tambak menggunakan sistem tandon/biofilter untuk mengelola air sebelum digunakan untuk petak pembesaran. Pemasukan air menggunakan pompa submersible dengan saringan ganda menggunakan planktonet. Aerasi menggunakan kincir dan blower (super cash). Padat penebaran benih udang windu 50 ekor/m2 dan 50 ekor/m2. Penggunaan pupuk Nitrat dosis 0,5 ppm dilakukan bila kecerahan air kurang dari 40 cm. Penambahan sumber karbon tepung tapioka 2 kali tiap minggu dengan dosis 10-20% dari total protein pakan yang ditebar di tambak. Pada persiapan air media dilakukan inokulasi Chlorella sp. Kestabilan kemelimpahan plankton selama pemeliharaan berwarna hijau kecoklatan dengan dominasi klas Chloropiceae hingga mencapai kepadatan 6,2.106 sel/lt. Parameter kualitas air lainnya selama pemeliharaan pada kisaran yang normal.

Produksi yang dihasilkan pada kajian/ujicoba ini adalah petak O-1 produksi 810 kg (SR 73% dan size 45 ekor/kg) dan petak O-2 produksi 803 kg (SR 74% dan size 46 ekor/kg).

 

Kata kunci:    udang windu, P. monodon, green water system, pupuk nitrat dan sumber karbon (tepung tapioka)




Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
20-07-2011
781.88 KB
6
ANALISA BAHAN BAKU PAKAN DAN PAKAN KOMERSIAL

Oleh :

Meynawati, Kusumawati, Suharyanti

 

Abstrak

 

         Melihat pentingnya kebutuhan nutrisi pada pakan udang dan ikan, maka diperlukan suatu analisis untuk mengetahui kadar dari suatu bahan baku pakan. Analisis ini meliputi : analisis proksimat dan analisis asam lemak. Analisis proksimat terdiri dari kadar air, kadar abu, lemak kasar, protein kasar, serat kasar, BETN (bahan ekstrak tanpa nitrogen). Bahan ekstrak tanpa nitrogen antara lain adalah gula, zat pati, dan hemiselulosa. Analisis asam lemak yang terdiri dari C14:0 sampai dengan C22:6

 Metode yang digunakan untuk analisis kadar air, kadar abu, lemak kasar, dan serat kasar adalah metode gravimetri, sedangkan untuk anlisis protein kasar menggunakan metode kjeldhal. Kromatografi gas merupakan metode yang digunakan untuk analisis asam lemak. Analisis carotenoid dan khlorofil menggunakan metode spectrofotometri.

 Rencana penerimaan sampel bahan baku pakan dan pakan komersial pada tahun anggaran 2010 adalah 100 sampel dan terrealisasi sebanyak 277 sampel dengan prosentase pencapaian sebesar 277 %.

 

Kata kunci : bahan baku, pakan, proksimat




Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
06-07-2011
48 KB
2
PEMATANGAN GONAD INDUK KERAPU BEBEK DENGAN PEMBERIAN VITAMIN C DAN E.

Oleh:
Maskur Mardjono, Budhikrisna Susanto dan Bambang Untiyanto
Abstrak
Kecukupan dan mutu pakan bagi induk ikan merupakan faktor penting untuk memproduksi induk yang berkualitas baik, defisiensi nutrien esensial terutama asam amino, vitamin dan mineral dapat mengakibatkan perkembangan telur terhambat dan akhirnya tidak terjadi ovulasi. Vitamin C merupakan nutrien esensial bagi ikan. Vitamin ini berperan pada metabolisme asam lemak dalam tubuh yang selanjutnya akan menentukan kualitas telur dan larva ikan. Penambahan vitamin C dalam pakan induk ikan dapat meningkatkan kualitas telur dan larva. Selain vitamin C, vitamin E juga dibutuhkan untuk meningkatkan kesuburan dan meningkatkan waktu reproduk si induk ikan.
 
Ujicoba pemberian vitamin C dan E pada pakan induk kerapu bebek berlang sung sejak bulan Pebruari hingga September 2010, kegiatan produksi telur dilakukan pada bak beton bulat volume 200 m3. Induk ikan kerapu bebek yang digunakan ber jumlah 24 ekor dengan berat antara 1.5 – 4 kg. Pakan harian induk berupa ikan ku niran, cumi-cumi dan ikan layang diberikan setiap minggu bersamaan dengan pem berian vitamin C dan E dengan cara dimasukkan ke dalam tubuh cumi atau mulut ikan Penggantian air  dilakukan antara 100-200 % / hari.
 
Dari hasil ujicoba pemberian vitamin tersebut, induk kerapu bebek mulai memi jah mulai bulan Maret 2010, telur yang dihasilkan berjumlah 3.547.00.000 butir. Selan jutnya mulai terjadi penurunan jumlah telur sejak bulan April sampai Agustus 2010 demikian pula jumlah hari pemijahan hanya  5 – 6 hari, mulai bulan September tidak terjadi peneluran lagi.
 
Kata kunci :   Induk kerapu bebek,  vitamin C dan E



Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
21-06-2011
61.5 KB
4
ANALISIS RESIDU ANTIBIOTIK PAKAN IKAN & IKAN

Abstrak

Tindakan pengobatan dalam pengendalian penyakit ikan dimaksudkan untuk memulihkan status kesehatan yang terganggu akibat sakit kembali ke kondisi sehat, yang berarti ada tindakan restorasi dalam bentuk pengobatan sesuai dengan jenis penyakitnya, termasuk penggunaan antibiotika untuk menanggulangi infeksi bakteri. Pemakaian antibiotika pada udang mengancam kelancaran produk tersebut ke pasar dunia terutama Eropa.   Kegiatan analisa residu antibiotik bertujuan untuk melakukan pengujian kandungan residu antibakterial dalam sampel udang, pakan ikan dan bahan baku pakan.

 

Dari kegiatan tersebut diperoleh hasil analisa kanduingan cholramphenikol dan tetrasiklin dan turunannya.  Jumlah sampel yang dianalisa keseluruhan berjumlah 84 contoh, yaitu terdiri dari 29 contoh pakan ikan dan 55 contoh udang (vanname dan windu). Contoh yang dianalisa berasal dari suasta (pabrik pakan); Dinas KP Propinsi; hasil monitoring; lingkup Balai. Sebagian besar sekitar 64 % contoh yang diterima berasal dari suasta (pabrik pakan).  Hasil analisa chloramphneikol (CAP) dari 43 contoh yang dianalisa ditemukan satu contoh yang terdeteksi antibiotik tersebut atau sekitar 2,44 %, yaitu contoh pakan ikan yang berasal dari Dinas Propinsi Jawa-Tengah. Sedangakan pada contoh udang tidak ditemukan adanya residu antibiotik CAP. Sedangkan hasil analisa yang dilakukan baik pada contoh pakan ikan maupun contoh udang tidak ditemukan adanya residu oksitetrasiklin.

 

Kata kunci : Chloramphenikol, oksitetrasiklin, residu




Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
13-06-2011
149 KB
3
PRODUKSI UDANG SAYUR SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAAN BAK BACKYARD HATCHERY

Oleh:
Lisa Ruliaty, Agus Basyar, M.Soleh dan Kaemudin
 
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara
 
Abstrak
Rekayasa produksi udang putih (L. vannamei) di bak backyard hatchery untuk dijadikan udang sayur telah di lakukan.  Produksi udang sayur ini dimaksudkan untuk memanfaatkan serta memberdayakan bak-bak backyard hatchery udang yang telah lama tidak beroperasi.  Udang putih di pelihara dari PL8 – PL10 selama 2-2,5 bulan dengan kepadatan awal yang berbeda.  Kepadatan awal yang dipakai yaitu 5.000 ekor/bak (313 ekor/m2), 10.000 ekor/bak (625 ekor/m2), 20.000 ekor/bak (1.250 ekor/m2) dan 30.000 ekor/bak (1.875 ekor/m2).
Pakan berupa pellet crumble diberikan dengan frekuensi pemberian 4x sehari sebanyak 10% - 5% dari berat biomas udang selama pemeliharaan.   Untuk menjaga kondisi oksigen di media di pergunakan aerasi bawah dengan menggunakan paralon yang telah di lubangi kecil.  Pada kepadatan 5.000 ekor/bak dan 10.000 ekor/bak pergantian air dilakukan 2-3 hari sekali dengan sistem air mengalir sebesar 50 – 100%.  Sedangkan pada kepadatan 20.000 ekor/bak dan 30.000 ekor/bak setelah pemeliharaan ≥ 1 bulan dilakukan pergantian air 100% setiap hari dengan system air mengalir dan selalu menjaga ketersediaan oksigen setiap saat terutama pada malam hari.
Dari rekayasa ini didapatkan bahwa pada kepadatan awal 5.000 ekor/bak menghasilkan rerata biomas udang sayur 25 kg, FCR 1,3 dan SR 82,3%; kepadatan awal 10.000 ekor/bak menghasilkan rerata biomas udang sayur sebesar 48 kg, FCR 1,6 dan SR 89,81%.  Kepadatan awal 20.000 ekor/bak menghasilkan biomas udang sayur 86 kg, FCR  1,7 dan SR 86%.  Sedangkan pada kepadatan awal 30.000 ekor/bak menghasilkan biomas udang sayur 108 kg, FCR 1,9 dan SR 80%.  Dari analisa biaya didapatkan bahwa produksi udang sayur di bak backyard hatchery dengan kepadatan awal hingga 30.000 ekor/bak  masih memberikan hasil yang menguntungkan.
 
Kata Kunci: Udang putih, udang sayur, backyard hatchery



Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
08-06-2011
279.5 KB
3
PRODUKSI BABY CRAB RAJUNGAN Portunus pelagicus DENGAN SISTEM MODULAR

PRODUKSI BABY CRAB RAJUNGAN Portunus pelagicus

DENGAN SISTEM MODULAR [1]

Oleh:

Lisa Ruliaty, Anindiastuti dan Kaemudin

Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara

Email : lisaruliaty@yahoo.co.id

Abstrak

Sistem pemeliharaan untuk menghasilkan baby crab rajungan selama ini dengan mempergunakan benih rajungan stadia Crab-5 (lebar karapas 0,4 cm, berat 0,01 g/ekor) yang kemudian dipelihara lanjutan. Namun,  ketersediaan benih rajungan Stadia Crab-5 menjadi faktor pembatas di dalam memproduksi baby crab rajungan.  Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan rekayasa produksi baby crab rajungan dengan sistem modular.

Produksi benih rajungan dengan sistem modular dilakukan dengan cara memelihara larva rajungan pada wadah pertama yang kemudian dipindahkan ke wadah pemeliharaan lain yang dapat berupa bak out door yang telah di beri substrat pasir atau tambak pembesaran. Cara ini diharapkan akan dapat menyederhanakan teknologi pada pembenihan rajungan.  Hasil akhir adalah benih rajungan berupa baby crab dengan ukuran lebar karapas 1-2 cm dan berat 1,5-2 g/ekor. Baby crab yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai benih untuk di besarkan di tambak pembesaran ataupun sebagai bahan untuk pembuatan makanan kecil.  Sehingga perlu dilakukan rekayasa untuk mengetahui persyaratan teknis dalam produksi skala massal baby crab rajungan dengan sistem  modular.


[1] Makalah di sampaikan pada pertemuan Indonesian Aquaculture 2010 di Hotel Novotel Bandar Lampung, 4 – 6 Oktober  2010.

 

 




Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
07-06-2011
131 KB
2
KOORDINASI JEJARING PEMULIAAN IKAN KERAPU, BANDENG DAN ABALONE

Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau sebagai anggota dari jejaring pemuliakan ikan bandeng telah mengikuti pertemuan rapat kooordinasi ikan kerapu, bandeng dan abalone. di laksanakan di hotel puri ayu, denpasar pada tanggal 26 Mei 2011. sebagai peserta dari BBPBAP Jepara adalah kepala BBPBAP dan salah satu staffnya yang berkerja pada bidang pemuliaan ikan bandeng. Dari hasil rapat tersebut didapatkan draf  rumusan  koordinasi jejaring pemuliaan ikan kerapu, bandeng dan abalone yang ke depannya menjadi acuan bagi anggota jejaring pemuliaan ikan. Draft rumusan lengkap hasil koordinasi jejaring pemuliaan ikan kerapu, bandeng dan abalone dapat dibaca didownload.



Tanggal
Ukuran
Kali Didownload
01-06-2011
39.0 KB
12

Penggunaan Informasi

Untuk menyadur, menampilkan ulang artikel, hasil download, tulisan, atau apa saja yang berasal dari website BBPBAP Jepara untuk ditampilkan atau digunakan selanjutnya, kami sarankan untuk meminta ijin terlebih dahulu melalui emai bbbapjpr@rad.net.id

BBPBAP Tweet