Perbaikan Kualitas Tanah Melalui "Bioindikator" Cacing Lur
Secara praktisi, tanah sebagai dasar perairan dapat mempengaruhi produktivitas tambak dan menjadi areal timbunan bahan organik terutama dari sisa pakan dan feses. Dampak dari akumulasi bahan organik tersebut akan menimbulkan kondisi lingkungan anaerob, sehingga akan terjadi proses dekomposisi anaerob yang menghasilkan senyawa yang bersifat toksik terhadap lingkungan budidaya. Salah satu cara untuk mengurangi dampak akumulasi bahan organik tersebut adalah pembersihan pada tanah itu sendiri, yang dapat dilakukan secara biologis yaitu dengan memanfaatkan organisme heterotrof yaitu cacing lur (Nereis sp.).
TUJUAN
mengetahui kepadatan cacing lur yang paling baik dalam memperbaiki kesuburan tanah.
SASARAN
memperbaiki kualitas tanah tambak dengan menggunakan hewan bentik, serta sebagai alternatif pilihan dalam upaya menjaga atau meningkatkan kesuburan dasar perairan yang lebih mudah dan murah dengan memperhatikan kondisi ekologis agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
METODA
A. WADAH
15 buah aquarium ukuran (40x60x40) cm3 dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu :
- Perlakuan A, kepadatan 0 ekor/wadah
- Perlakuan B, kepadatan 50 ekor/wadah
- Perlakuan C, kepadatan 100 ekor/wadah
- Perlakuan D, kepadatan 150 ekor/ wadah
- Perlakuan E, kepadatan 200 ekor/wadah
B. PENGAMATAN
Pengamatan dilakukan setiap 1 minggu sekali selama 4 minggu yang meliputi :
- Corganik (%)
- Ntotal (%)
- Porganik (%)
- C/N rasio (%)
| HASIL DAN PEMBAHASAN |
![]() |
| Gambar 1. Grafik pengamatan C-Organik |
![]() |
| Gambar 2. Grafik pengamatan kandungan N total |
![]() |
| Gambar 3. Grafik pengamatan kandungan P Organik |
![]() |
| Gambar 4. Grafik pengamatan C/N rasio |
Perbaikan kualitas tanah paling signifikan terlihat pada kepadatan 150 ekor/aquarium (perlakuan D) terutama paremeter Ntotal sebagai sumber bahan organik seperti disajikan pada grafik. Dampak selanjutnya terlihat pada peningkatan parameter C/N ratio yaitu kepadatan 50 ekor/wadah (B) dari 9,185% menjadi 11,34%; kepadatan 100 ekor/wadah (C) dari 8,82% menjadi 10,41%; kepadatan 150 ekor/wadah (D) dari 6,12% menjadi 11,59% dan kepadatan 200 ekor/wadah (E) dari 8,48% menjadi 10,56%.
DAFTAR PUSTAKA
Clavero, V, J. A. Fernandez, F. X. Niell. 1992. Bioturburation by Neries sp. and Its Effects on The Phosphate Flux Across The Sediment-Water Interface in The Palmones River Estuary. Journal Hydrobiologia. Vol 235-236 No 1
Heilskov, A. C, M. Alperin, and M. Holmer. 2006. Benthic Fauna Bio-irrigation Effects on Nutrient Regeneration In Fish Farm Sediments. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology. Volume 339 No 2








